Kamis, 19 Maret 2009

Chapter 8-1 : Well of Life and Mysterious Creature

Perjalanan itu sangat jauh, sudah tiga jam lebih mereka berjalan, namun belum terlihat apa - apa

"Hen... Apa kau tidak salah jalan? Sudah 3 jam nih... Lama sekali...," keluh Mekel.

"Sudah Kel jangan banyak mengeluh," timpal Aan. "Mencari tempat seperti itu tidak mudah," lanjutnya.

"Huh, lihat saja... Nanti juga lelah sendiri...," gumam Mekel.

"Hen, berapa jauh lagi lokasinya ?" tanya Steve.

"Masih agak jauh kurasa, sekitar 1 jam lagi," jawab Ahen.

"Haaaaaa? 1 jam?" Mekel kembali memotong.

"Mekel sudah tidak usah banyak mengeluh! Masa kalah dengan pacarmu sendiri yang seorang wanita ?" canda Aan, diselingi tawa dari Steve dan yang lainnya.

"Cih dasar!" keluh Mekel.

"Haha maklum saja biasanya kan pakai guardian." tambah Lisa.

"Jah..!" Mekel diam seribu bahasa.

"Hahaha tidak bisa membalas." Ahen pun mulai geli dan tertawa melihat pemandangan itu.

"A...Ahen... Kristal es apa itu ?" tanya Aan, menunjuk kepada sebuah kristal es raksasa yang menghalangi jalan mereka.

"I...Itu... Gawat!! Aku lupa memberitahu kalian satu hal," kata Ahen.

"H..Hal apa ?" tanya Aan.

"Kita memang sudah dekat dengan sumur..." kata Ahen.

"Lalu..? Ada yang salah kah?" tanya Aan ragu.

"Sumur kehidupan itu.... Berada di balik kristal es ini...." jawab Ahen dengan ragu - ragu.

"Lalu tinggal kita hancurkan saja kan ?" Mekel pun mengambil sebuah dinamit, dan bersiap melemparnya.

"M..Mekel... Jangan!!!" Ahen mencoba melarang, namun terlambat....

Sebuah ledakan hebat mengguncangkan goa itu.

"Ga...Gawat..." Ahen hanya bisa menggigit jarinya.

Di hadapan mereka muncul seekor anjing berkepala 3, matanya semerah darah, kulitnya hitam, berekor seperti ular, dan bersayap hitam. Tubuhnya masih separuh terbalut es. Raungannya membuat seisi goa ketakutan.

"Si...Siapa dia ?" Mekel ketakutan melihat makhluk berkepala tiga itu.

"Bodoh... Sudah kubilang jangan tetap kau lakukan," omel Ahen.

"Sial... Apa boleh buat harus kita hadapi makhluk ini," kata Aan.

Aan melompat tinggi, dan mengayunkan pedangnya ke salah satu kepala makhluk itu, namun apa daya, makhluk itu sama sekali tidak bergeming.

Anjing berkepala tiga itu membalas dengan memukulkan kakinya ke tanah, dan menghancurkan semua yang berada pada jangkauannya, dan serangan ini tidak dipungkiri lagi dapat membekukan benda apapun di depannya.

"Sial.... Dia kuat... Hati - hatilah semuanya!" perintah Aan.

=====================================Chapter 8-1 End=================================

Sabtu, 07 Maret 2009

Chapter 7 : Old Friend

Wajah assassin itu tampak sangat familier bagi Lisa

"A...Ahen..." Lisa terkaget melihat wajah pria itu.

"Ya, cepatlah.. bantu aku... kita akan hadapi wanita ini bersama." kata pria bernama Ahen ini.

"B..Baik... HOLY FORCE!!" Lisa mengeluarkan energi dahsyat yang meningkatkan serangan Ahen. Dan sekejap 1 kepala lagi terputus...

"Urgh... Kau...!!" wanita itu terkejut.

"Kenapa ? Kaget ? Bukannya dulu kau bilang tidak takut hah ?" Ahen mulai memprovokasi wanita itu.

"Sial..!!!" wanita itu melanjutkan dengan mantra misterius... Dan sama seperti sebelumnya, naga es itu menyemburkan es yang mengarah ke Ahen... Namun

"Huhu...Sukses...Hanya segitu saja kah ?" wanita itu melihat Ahen membeku di dalam es.

"Sayangnya.... Belum berakhir..." Mendadak Ahen berada di belakang wanita itu, dan menusuk punggungnya.

"Urgh... Badanku... ARGH!!" teriak wanita itu kesakitan, mulutnya memuntahkan darah yang banyak, dan pisau Ahen yang masih menancap di punggungnya.

"Huf... Ini baru akhirnya!!!" Ahen menusuk kedua mata naga es itu dengan dua bilah kunai di pinggangnya, naga es itupun dapat dilumpuhkan. Ahen pun menarik tangan wanita itu, dan melemparkannya ke sebuah pilar es.

Wanita itu berdiri lagi...

"Tunggulah pembalasanku..." wanita itu berteriak sambil menunjuk ke arah Ahen.

"Silakan kalau memang bisa..." Ahen membalas sambil memberi ibu jari kebawah.

"Ahen... Bagaimana bisa kau di sini..?" tanya Lisa.

"Ceritanya panjang Lis. Mana yang lain?"

"Di situ..." Lisa menunjuk ke arah teman - temannya dibekukan.

"Oh... Es di sini sangat lemah terhadap racun, kurasa ini mudah." Ahen mengoleskan sebotol cairan beracun ke sepasang senjatanya, kemudian ditebaskan ke arah es - es itu. Dengan mudah semua es itu mencair.

"Huh.. Bagaimana bisa?" Aan terkejut, lalu melihat Ahen... "A...Ahen?" Aan pun kebingungan.

"Ko Aan!! Lama tak bertemu." Ahen menimpali.

"Ah.. Bagaimana kabarmu Hen, bagaimana kau bisa ada di sini?" Aan balik bertanya.

"Ceritanya panjang ko, nanti pelan - pelan. Ada apa dengan Chris, dia tampak lemas dari tadi?" tanya Ahen.

"Ah... Dia terkena api King of Death yang tidak biasa..." jawab Aan.

"Tidak biasa..Maksudmu??!!" Ahen pun heran.

"Ya, King of Death berwarna merah dan diselubungi api." Aan menjelaskan.

"Oh... Aku mengerti maksudmu... Jadi harus dibawa ke Well of Life?" Ahen sepertinya mengerti tempat yang harus mereka cari.

"Well of Life?" Aan kebingungan.

"Itu tempat dimana kita bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, termasuk luka bakar separah ini." jawab Ahen.

"Kau tahu tempatnya?" Steve mendadak menimpali.

"Aku tahu, bisa kuantar." jawab Ahen.

"Baik, ayo berangkat." perintah Aan.


======================================Chapter 7 End==================================

Sabtu, 28 Februari 2009

Chapter 6 : Ice Wyverns

Aan dengan penuh percaya diri melompat, dan mencoba membelah salah 1 dari naga es itu, namun apa daya... pukulannya tidak berarti apa - apa.

"Cuma segitu saja ?" ucap orang misterius itu dengan nada meremehkan.

"Kurasa kaulah yang perlu banyak latihan." Aan menimpali. Mendadak Aan berada di belakang orang itu, namun orang itu tidak berusaha kabur, malah hanya diam saja.

"Huhuhu... Kau pikir semudah itu ?" orang itu menahan dengan telapak tangannya. Seakan sudah mengetahui gerakan Aan. Aan pun dilemparnya dengan keras.

"Urgh.." Desah Aan kesakitan.

"Masih bisa banyak bicara kau sekarang ? Hahaha!!" ucap orang misterius itu dengan tawa licik.

"All In!" Steve mengeluarkan sederetan kartu. Namun seluruh kartu itu tidak ada apa - apanya di hadapan para naga es.

"Ternyata memang tidak ada apa - apanya." gumam orang itu.

"Naga es ini...." Steve khawatir.

"Cukup segini saja kemampuan kalian??" ucap orang itu lagi.

"Makan ini!!" teriak Aan yang memaksakan dirinya bertarung, meskipun badannya penuh cidera.

"Sudah kubilang percuma saja!" orang itu menapakkan tangannya, dan membuat sebuah barrier yang membuat Aan terpental.

"Argh!!" teriak Aan kesakitan.

Sekejap, orang itu mengucapkan suatu mantra, dalam sekejap ke - 3 naga es yang mengawalnya menyatu menjadi naga berkepala 3.

"Huhuhu...." tawa liciknya menghiasi suasana mencekam itu.

Salah 1 kepala dari naga itu menyemburkan es, dan sekejap membekukan Aan.

"Ko!!" teriak Steve.

"Giliranmu berikutnya..." gumam orang itu sambil menunjuk Steve.

Lagi, naga berkepala 3 itu menyemburkan es dan membekukan Steve.

"Steve! Ko Aan!!" teriak Mekel khawatir.

"Giliran siapa berikutnya...???" kata orang itu sambil tertawa lebar. "Oh kau saja..." ucapnya sambil menunjuk Mekel.

Mekel pun mengalami apa yang terjadi pada Steve dan Aan. Sekarang, Lisa tidak bisa berbuat apa - apa, ditambah Chris yang sudah tidak berdaya.

"Mekel...." Lisa bingung, ia tidak bisa melakukan apa - apa.

"Sisa seorang wanita... Harus kuapakan ini... Hahaha..." orang itu membuka kerudung jubahnya, dan memperlihatkan wajah aslinya - ternyata seorang wanita cantik dengan wajah biasa.

"Dia... Wanita biasa??" tanya Lisa dalam hati.

"Hm... Kurasa memang harus kita selesaikan sekarang.... Sebagai sesama wanita." gumam wanita itu.

"Cukup sampai di situ!" teriak seseorang. Suaranya benar - benar familier di telinga Lisa.

Salah satu kepala dari naga itu pun terbelah....

"Urgh... Siapa itu!!??" tanya wanita itu.

"Lisa... Bangunlah..." pria itu berbicara lagi.

"Ah...Kau..." Lisa sepertinya mengenali pria itu.

================================Chapter 6 End========================================

Jumat, 16 Januari 2009

Chapter 5: Unknown Place

Tempat itu sungguh suram, dingin, tidak ada seorangpun. Mereka berlima penasaran, menelusuri tempat itu....

"Aneh, sebenarnya tempat apa ini?" Mekel penasaran meraba - raba temboknya. Tiba - tiba tembok itu rapuh, dan meninggalkan sebuah tulisan.

"Mmm... Kel.... Tulisan apa itu?" tanya Steve.

"Tulisan?" Mekel yang tidak mengetahui hal itu penasaran dengan apa yang dikatakan Steve.

"Iya, lihat ke kanan."

Mekel melihat tulisan itu,

"Only a man will survive from this place if...." tulisan itu mendadak sirna, seperti ada seseorang yang menghapusnya.

"Hanya 1 orang yang akan bertahan hidup di tempat ini apabila...." Steve dan Mekel penasaran, mencoba mengusap tembok lagi, namun apa daya, tidak ada yang nampak sama sekali.

"Tulisan ini berbentuk ukiran, mungkin sudah berumur ratusan tahun, tak heran kalau ada beberapa kata yang hilang." Aan mencoba menganalisa.

"Tidak ko! Lihat, lanjutan dari pesan ini terlihat seperti sengaja dihilangkan." Steve menampik pendapat Aan.

"Iya juga... Kalau memang hilang.. Pasti ada bekas goresan atau sejenisnya...." Aan sependapat dengan Steve.

"Kalian mau tahu tulisan apa itu? Fufufu..." kata seseorang dengan nada licik.

"Siapa kau??!!" Aan mengarahkan pedangnya pada seseorang berjubah hitam di atas seekor naga es.

"Tenanglah.... Sebentar lagi permainan akan dimulai." ucapnya sambil menyelentikkan jarinya. Tiba - tiba muncul sekelompok Troll bersenjata kapak lempar di sekeliling mereka.

"Uh.... Gawat... Banyak sekali jumlahnya." Aan kebingungan.

"Selamat bersenang - senang. Kuharap kalian menikmatinya!" orang itu seraya menghilang bersama dengan naga esnya.

"ALL IN!" Mekel dan Steve berteriak bersama, mengeluarkan sejumlah kartu yang menyerang beberapa dari Troll itu.

"AWAKENING!" Aan pun menyusul dengan serangannya.

"Ko Aan! Di belakang!" Steve memperingatkan. Tiba - tiba di belakang Aan sebuah kapak lempar mengarah ke bahunya, beruntung Aan, Steve masih sempat menangkis dengan pisau lemparnya.

"Hati - hati, mereka berbahaya." Mekel memperingatkan.

"Cepatlah! Keadaan Chris semakin memburuk!" Lisa memperingatkan.

Mereka dengan mudah menghabisi sekelompok Troll itu, namun...

"Huhuhu... Boleh juga.... Namun permainan sebenarnya akan dimulai sekarang." Orang itu muncul kembali dengan 3 ekor naga es.

"3 ekor??!!" Aan terkejut melihat orang itu didampingi 3 ekor naga es.

"Ini....." Mekel kebingungan, melihat kondisi mereka yang tidak menguntungkan.

"Hahaha!!! Ayo kita mulai permainan yang sebenarnya!" teriak orang itu dengan lantang.

"Silahkan, ayo kita mulai!" jawab Aan seakan yakin dapat mengalahkannya.

==============================Chapter 5 End =========================================

Kamis, 08 Januari 2009

Chapter 4 : The King of Death

Mereka terus berjalan ke dalam, mencari asal dari kekuatan jahat di dalam tambang itu...

"Tebal sekali kabutnya.... Kurasa akan sulit menemukan sumbernya" Steve kebingungan mencari arah, kompas sama sekali tidak berfungsi, jalan hanya terlihat samar - samar.

"Jalan saja terus Steve, kami di belakangmu." Aan yang kebingungan hanya bisa mengandalkan Steve yang punya insting cukup tajam.

"Baik ko" Steve menjawab Aan dengan ragu - ragu, karena diapun tidak memahami jalan di sekitar situ, dan ditambah kabut yang sangat tebal membuat penciuman dan penglihatannya tidak berfungsi dengan baik.

Mereka berjalan semakin jauh, tapi mereka tidak melihat bale seekorpun.

"Bale di sini.... Tidak ada??!!" Steve penasaran.

"Kurasa memang ada yang aneh." kata Aan.

"Ah....lihat di sana ko Aan, Steve!!!" teriak Mekel menunjuk pada sebuah gerbang kayu misterius, terlihat seperti sudah rusak.

"Ada baiknya kita ke sana." kata Aan sambil berjalan, diikuti yang lainnya.

Gerbang itu terlihat rapuh, namun anehnya, sangat sulit ditembus, bahkan tidak bisa dilukai oleh pedang sekalipun.

"Gerbang ini...." Mekel menyentuh gerbang itu, tiba - tiba terdengar sebuah suara seperti dentingan benda logam... Mereka melihat ke bawah, dan...

"Kunci?" Steve penasaran dengan benda itu.

"Siapa tahu bisa dipakai untuk membuka gerbang ini." Aan memberi pendapat.

"Iya juga, ayo kita coba" Steve pun memasukkan kunci itu ke lubang di gerbang itu, sekejap, gerbang itu terbuka, kabut pun sirna.

"Itu...." Aan terkejut melihat sekelompok bale di dalam gerbang itu. Sekelompok Skullo dan seekor King of Death, Skullo yang muncul pun seperti sebelumnya, sementara King of Death itu berwarna merah dengan api yang sangat besar di seluruh tubuhnya.

"King of Death itu.... Tidak seperti biasanya." kata Lisa sambil berlindung di belakang Mekel.

"Lisa, tenang saja, kau aman di belakangku." kata Mekel sambil mengedipkan mata kirinya pada Lisa.

"Hajar mereka!!!" teriak Aan memulai serangan. "Dominate!!!" Aan melanjutkan. Namun apa daya, serangan Aan tidak berhasil mengenai King of Death sedikitpun.

"All In!!" Mekel melanjutkan, namun serangan itu hanya mengenai pasukan Skullo di sekitar King of Death.

"Uh... Tidak bisa... Mendekatpun tidak bisa..." Aan mundur dengan luka bakar yang cukup serius di sekujur tubuhnya.

"Dengar.... King of Death itu tidak bisa didekati, namun tidak mempan terhadap serangan jarak jauh." kata suara misterius yang terdengar familier di telinga mereka.

"Ah...Kau lagi??" tanya Steve.

"Dengar, lawan kalian sangatlah berat, tidak bisa dikalahkan dengan serangan biasa." kata suara itu.

"Jadi... Bagaimana mengalahkannya?" tanya Aan.

"Itu... Coba kalian pikirkan sendiri. Entah mengapa aku sendiri tidak tahu" katanya.

"Percuma kalau sudah begini!!" Aan mulai kehilangan akal.

"Uh.... Sama sekali tidak ada cara kah?" Steve mulai putus asa.

King of Death itu berteriak. Teriakannya menggema sehingga 1 tambang mendengarnya. Lalu King of Death itu menyerang Aan dan yang lainnya hingga terlempar jauh.

"Uahhhhhhh!!!!!!" teriak Aan kesakitan menahan api yang sangat besar itu.

Mereka berlima mengalami luka bakar yang sangat parah. Sementara itu King of Death akan melakukan serangan kedua.
Beberapa saat kemudian King of Death itu menembakkan api dari sekujur tubuhnya, membakar pasukannya sendiri, dan hampir mengenai kelima petualang itu.
Chris mencoba menahan serangan itu dengan perisainya, namun apa daya, malah perisainya sendiri yang terbakar, dan melukai tangannya sendiri.

"Uaghhh!!!" teriaknya kesakitan sambil memegangi tangannya.

"Chris!" Lisa mencoba melakukan heal pada tangan Chris, namun tidak terjadi apa - apa.

"Percuma saja kau mencoba menyembuhkannya, api King of Death ini tidak bisa disembuhkan dengan heal biasa." suara itu menjelaskan.

"Lalu?" tanya Lisa.

"Hanya air suci yang bisa menyembuhkan luka itu, aku sendiri tidak tahu dimana air suci itu berada."

"Kalau tidak menemukannya?" tanya Lisa lagi.

"Hidup Paladin itu tinggal menghitung hari saja... Karena itu cepatlah kau cari sumber air suci itu."

"Uh...Menghitung...Hari..." Chris bingung dan gugup. Namun rasa sakit itu terus menjalar, hingga ke saraf - saraf tangannya. "UAGHHHH!!!" teriaknya.

"CHRIS!! BERTAHANLAH!!!" teriak Mekel.

King of Death itu akan mengeluarkan gelombang serangan berikutnya. Sekejap sebuah pelindung cahaya menahan serangan itu.

"Cepat kalian lari, pelindung cahaya ini hanya bertahan 10 menit lagi!!" kata suara itu.

Mereka berlima dengan guardian masing - masing ke arah pintu tambang, sementara Chris yang kesulitan bergerak sementara dibawa oleh Aan ke atas guardiannya(Aan,red).

"Chris, bertahanlah... Jangan mati dulu..." gumam Aan di atas guardian.

"1 menit lagi!! Cepatlah!!!" suara itu mengingatkan.

"Cepat semuanya!!!" teriak Aan.

Hampir menyentuh pintu tambang, tiba - tiba....

"Tidak ada waktu lagi..." kata suara itu.

"KO AAN!!! GAWAT!! Api itu sudah mendekat!!!" Steve yang di belakang berteriak.

"STEVE!! Awas belakang!!!" Aan berteriak pada Steve, namun terlambat, api itu menjalar dengan cepat, meruntuhkan seluruh tambang, dan Tambang Clements sekarang menjadi puing - puing yang tidak diketahui lagi keberadaannya.

Tiba - tiba mereka berlima terdampar di tempat lain. Tempat itu seperti sebuah goa, dingin, di sekitarnya hanya terdapat sekumpulan es.

"Dimana ini...?" Steve penasaran.

"Entah....Aku sendiri tidak tahu." Aan turut penasaran.

================================Chap 4 - End ========================================

Rabu, 07 Januari 2009

Chapter 3 : The Clements Mine

Mereka berlima berjalan menuju ke arah kanan kota Zaid, dan benar yang dikatakan Steve, semakin kanan kabut semakin tebal,

"Hati - hati semuanya, kabut semakin tebal, jangan memisah!" kata Steve mengingatkan yang lain.

Mereka terus berjalan sampai ke arah utara, dan akhirnya mereka menemukan sebuah tambang....

"Ayo masuk ke tambang ini, kurasa hawa negatif memang berasal dari tambang ini." kata Aan memberi komando.

Mereka masuk ke dalam tambang, tempat itu sepertinya tidak asing lagi bagi mereka.

"Ini....." Mekel berpikir sambil memandang sekitar tambang itu.

"Tidak salah lagi..." Steve membenarkan.

"Tempat ini....Tambang Clements ???" tanya Chris.

"Betul. Sepertinya memang ada yang aneh dari Tambang Clements, ayo kita masuk." Aan membenarkan ucapan Chris dan terus berjalan diikuti teman - temannya.

"Kyaa!!" teriak Lisa

"Ada apa Lisa ?" tanya Mekel pada kekasihnya.

"I...Ini...." Lisa menunjuk pada sekelompok bale dengan ketakutan.

Lisa menunjuk pada sekelompok bale berbentuk tulang, berwarna biru, dan seluruh tubuhnya terdapat api di depannya. Wujud bale itu juga tidak asing lagi dilihat olehnya.

"Itu..." Mekel menanggapi. Sebelum ia selesai bicara, Lisa diserang terlebih dahulu oleh bale itu.

"Lisa!!!" Steve membunuh bale yang menyerang Lisa itu.

"Skullo.... Bentuknya sama, hanya saja..." Aan menambahi

"Api dan warna biru... Skullo jenis apa ini?" tanya Mekel.

"Berhati - hatilah, Skullo ini sudah ditingkatkan kekuatannya." muncul sebuah suara secara tiba - tiba dan mengagetkan seluruh petualang.

"Hah??!! Siapa itu ???" tanya Aan

"Tenang, belum waktunya kalian untuk tahu..." kata suara itu lagi. "Hati - hati saja, mereka bukan Skullo yang selama ini kalian kenal...." kata suara itu.

Mereka berlima mencoba melawan kelompok Skullo itu, namun...

"Uh... Mereka.... Dibunuhpun percuma saja... Mereka bisa hidup lagi" Aan mencoba mundur dari kerumunan bale itu.

"Sudah kubilang.... Lebih baik kalian mundur saja, mereka terlalu kuat untuk kalian" kata suara itu lagi.

"Diam kau!!" teriak Mekel.

"Kurasa dia memang benar." kata Steve.

"Steve...Kau!!" Mekel dengan emosi mendekati Steve dan bersiap memukulnya. Namun Aan menengahi mereka.

"Sudah Mekel!" Aan menegur Mekel yang bersiap memukul Steve. "Suara itu memang benar." kata Aan membela Steve.

"Cih...Jadi kita mau menyerah begitu saja???" tanya Mekel.

"Tidak, mundur bukan berarti menyerah, Mekel." kata Aan

"Lalu...?" tanya Mekel penasaran

"Mereka terlalu kuat Kel, kalau maju sekarang, sama saja bunuh diri!" kata Aan. "Kita mundur untuk cari kesempatan bagus." tambahnya.

"Aku akan maju duluan." kata Chris.

Saat Chris maju ke depan, seorang Knight muncul dari depannya. Knight itu mengenakan armor hitam, pedang berwarna biru keunguan, rambutnya putih, tubuhnya kekar.

"Ah... Siapa kau??!!" tanya Chris pada knight itu.

"Kau tidak perlu tahu sekarang." katanya. "Heavenly Cross!!!" teriak Knight itu menyerang para Skullo, sekejap seluruh Skullo itu musnah, tanpa ada sisa seekorpun.

"Sampai jumpa." kata Knight misterius itu, lalu ia pun menghilang dari hadapan Chris.

"Siapa dia...?" gumam Chris dalam hati.

"Kalian lakukan seperti yang kubilang, langkah kalian tidak salah." suara misterius itu muncul kembali. "Baiklah, kalian bisa melanjutkan perjalanan kalian." kata suara itu lagi, dan suara itupun menghilang.

"Ayo kita ke dalam, sepertinya masih banyak yang harus diselidiki." kata Aan, mereka berlimapun melanjutkan perjalanan ke dalam.

Mereka berjalan terus sampai ke dalam..... Sekalipun mereka tahu bahaya menanti mereka....

======================================Chap 3 End ==========================================

Selasa, 06 Januari 2009

Chapter 2 : Mystery Behind

Mereka berlima keluar dari Bar, menyerang bale berbentuk mata tersebut.

"Cuma 1 kali pukulan? Mudah sekali?" kata Aan sambil menyelentikkan jarinya

"Ko, jangan terlalu meremehkan,kurasa mereka memang mudah, tapi tidak ada habisnya." kata Steve.

"Hmmm....Kurasa...." Aan mulai berpikir "Iya juga..." lanjutnya.

"Daritadi kelihatannya segini terus, tidak habis - habis" kata Steve.

"Cih....Sial...!!" kata Mekel yang sudah semakin terdesak "ALL IN!!" teriaknya menerjang rombongan bale itu

"Mekel!!!" Chris yang panik melihat Mekel dikepung, ikut menerjang rombongan bale yang mengepungnya. "TORNADO" Chris mengeluarkan angin besar yang menerbangkan sebagian dari bale itu.

Tiba - tiba, beberapa dari gerombolan bale liar itu melakukan sesuatu yang aneh, mereka mengubah diri mereka menjadi asap dan menghilang.

Tiba - tiba beberapa orang penduduk kerasukan, kehilangan kendali.

Kontan, penduduk yang dirasuki bale itu menyerang Chris dan Mekel yang membunuh sebagian besar dari mereka(bale, red) dengan menggunakan laser dari mata manusia yang dirasuki itu. Wajar saja lebih menyakitkan, karena mereka menggunakan sepasang mata manusia, tidak hanya satu buah mata, seperti sebelumnya.

"Uagh!!!" desah Mekel yang ditembak laser bertubi - tubi.

"Mekel!! Bertahanlah!!!" teriak Lisa sambil melakukan Heal pada Mekel yang terdesak.

Chris pun lama - kelamaan tidak dapat menahan sendiri serangan para "manusia 1/2 bale" itu. Perisainya mulai retak, armornya mulai rusak, tubuhnya sendiri kehilangan keseimbangan.

"Uh....!!!" desah Chris berusaha tetap menahan serangan itu dengan perisainya.

"Dominate!!!" Aan mengeluarkan gelombang serangan yang mengurangi pertahanan para "manusia 1/2 bale" dan beberapa dari mereka ada yang jatuh pingsan.

Steve juga melanjutkan serangan Aan "BLACKJACK!!" teriaknya sambil melemparkan deretan kartu sulap yang sanggup membunuh sebagian dari mereka(manusia 1/2 bale,red).

Usaha Aan dan Steve sia - sia, malah, lawan mereka tetap hidup, seperti zombie, dan mereka berdua pun juga diserang.

"Sial!!! Tidak adakah cara lain???" tanya Steve

Tiba - tiba Lisa melakukan heal pada "manusia 1/2 bale" tersebut, dan bale yang merasuki mereka(manusia,red) musnah seketika, dan seluruh manusia yang kerasukan itu kembali normal.

"Ah...kenapa bisa begini??" tanya seseorang yang sudah cukup tua.

"Kalian dirasuki bale tadi." kata Aan, ia menjelaskan secara detail bagaimana peristiwanya. Hingga penduduk itu terheran - heran akan cerita Aan.

"Ho...Bale ternyata mulai bisa merasuki manusia juga..." kata orang itu lagi.

"Ya, kami sedang berusaha mencari tahu penyebabnya" kata Aan.

"Oh...Baiklah....Selamat berjuang...." kata orang itu, sambil memberikan sesuatu pada Aan.

"Ini apa tuan?" tanya Aan.

"Jimat itu kuharap bisa melindungi kalian dalam perjalanan." kata orang itu.

"Terima kasih tuan, baiklah kami pergi dulu" kata Aan

"Hati - hati di jalan nak" kata orang itu.

Mereka berlima melanjutkan perjalanan....

"Kurasa energi negatif berasal dari kota Zaid" kata Steve

"Hmm...Baiklah kalau itu seperti yang kau bilang, ayo kita ke Zaid" kata Aan.

Mereka berlima pergi ke Zaid, dan memang benar, di Zaid, tidak ada manusia sama sekali, yang ada hanyalah kabut....kabut...dan kabut.... Jelas sekali hawa negatif berasal dari sini.

"Hmm... Benar, seperti yang kau bilang, Steve" kata Aan membenarkan ucapan Steve.

"Kota ini penuh kabut, jelas sekali hawa negatif di sini" kata Steve.

"Baiklah, kau ada kompas Steve?" tanya Aan

"Kompas tak akan berfungsi ko, tempat ini hawa negatifnya kuat sekali." jawab Steve

"Gawat...." gumam Aan

"Tapi semakin ke kanan hawa jahat ini semakin kuat kelihatannya" kata Steve menjelaskan.

"Baiklah, kita ke kanan." kata Aan memberi komando pada yang lain.

==================================Chap 2 End =========================